TAMBALAN AMALGAM
A. Amalgam
Dental amalgam sudah digunakan sejak tahun 1826 sebagai
material restorasi dengan mengandalkan retensi melalui preparasi dengan
undercut (Ali Noerdi, 2001:509)
Menurut defenisi Baum L, amalgam adalah campuran dari dua
atau beberapa logam, salah satunya adalah merkuri. Amalgam merupakan campuran
aloidan merkuri melalui suatu proses yang disebut amalgamisasi.
Amalgam
adalah jenis logam campur yang khusus mengandung merkuri sebagai salah satu
konstituennya. Karena merkuri bersifat cair dalam temperature kamar, merkuri
dapat dicampur dengan logam lain yang padat. Proses amalgam modern dimulai di
klinik ketika tetesan merkuri dikeluarkan dari sebuah ruang tertutup dalam
kapsul, kedalam ruang lain yang mengandung amalgam, kedua komponen tersebut
diaduk bersama dengan alat amalgamator sehingga membentuk tambalan amalgam yang
akan mengeras dengan warna logam yang kontras dengan warna gigi . Amalgam
adalah bahan tambal berbahan dasar logam,dimana komponen utamanya:
·
Likuid
yaitu logam merkuri (Hg)
·
Bubuk yaitu
logam paduan yang kandungan utamanya terdiri dari perak(Ag), timah(Sn), dan tembaga(Cu), selain itu juga terkandung
logam-logam lain dengan perentase yang lebih kecil.
Banyak orang mencurigai amalgam sebagai bahan tambalan yang berbahaya
karena kandungan air raksanya. Sesungguhnya,air raksa dalam amalgam terikat
dalam ikatan yang stabil dengan logam lainnya sehingga aman untuk di gunakan. Proses
amalgam masih berlanjut sementara segmen-segmen massa plastis terkondensasi di
bawah tekanan yang kuat terhadap dinding gigi-gigi yang sudah dipreparasi, atau
jika ada, terhadap pita matriks. Reaksi berlanjut selama proses manipulasi di
dalam mulut berkurang dalam waktu beberapa menit ketika amalgam gigi mulai
meningkat kekuatan dan kekerasannya. Walaupun reaksi dapat berlangsung bebrapa
hari,amalgam gigi sudah cukup kuat untuk menerima tekanan gigit yang sedang
dalam waktu beberapa jam saja.
Kualitas yang paling baik dari amalgam gigi adalah tahan lama
dan mudah memanipulasinya. Cukup bias beradaptasi dengan cairan mulut, amalgam
adalaha restorasi yang relative murah dan dapat diselesaikan dalam satu kali
kunjungan. Dapat dikatakan bahwa amalgam bahan tambalan yang paling banyak
dipergunakan dokter gigi.
B. Komposisi Amalgam Dan
Fungsinya
Amalgam adalah bahan tambal berbahan
dasar logam, dimana komponen utamanya:
·
Likuid yaitu logam merkuri (Hg)
·
Bubuk yaitu logam paduan yang
kandungan utamanya terdiri dari perak(Ag), timah(Sn), dan
tembaga(Cu), selain itu juga terkandung
logam-logam lain dengan perentase yang lebih kecil.
Kedua komponen tersebut direaksikan membentuk tambalan Amalgam yang akan mengeras, dengan warna logam yang kontras dengan
warna gigi. Alloy untuk
pemuatan dental amalgam dalam garis besarnya dapat di klasifikasikan ke
dalam dua tipe;
§ Alloy
konvensional kandungan konstitusi dasar: silver 67-74%, 27 % kuprum, 0,6%zinc.
§ Alloy kaya kuprumSilver 69%, Tin 17%, Kuprum 13%, Zinc 4%
Dengan semakin pesatnya perkembangan di bidang ilmu bahan kedokteran gigi,
untuk meningkatkan mutu amalgam terhadap terjadinya karies sekunder telah
dikembangkan dengan menambahkan senyawa fluorida dengan maksud menambah efek
anti kariogenik. Bahan restorasi amalgam yang mengandung fluorida yang dalam
bubuknya merupakan amalgam konvensional tipe lathe-cut dengan komposisi (brosur
Dentoria -France) :Stanus Fluorida (SnF) 1%, Perak
(Ag) 68%, Timah (Sn) 27%, Tembaga (Cu) 4,5%, Seng (Zn) 1,5%. Fluorida pada bahan restorasi amalgam dalam bentuk
senyawa SnF.
Senyawa ini terbukti dapat mengurangi kelarutan enamel terhadap asam dan
dapat meningkatkan konsentrasi fluorida di dalam struktur gigi yang berdekatan
dengan bahan restorasi ini.
Sejak standarisasi yang pertama kali dibuat untuk bahan-bahan kedokteran
gigi pada tahun 1927, sampai saat ini amalgam termasuk dalam bahan yang
diharuskan mempunyai batas-batas tertentu:
a.
Perak(Ag) :
65 % (batas minimum)
b.
Timah(Sn) :
29 % (batas minimum)
c.
Tembaga(Cu) :
6 % (batas maximum)
d.
Seng(Zn) :
2 % (batas maximum)
e.
Mercuri(Hg) :
3 % (batas maximum)
Kegunaannya:
Ag :
a. Mudah menyatu dengan Hg
b.
Meningkatkan pemuaian
c.
Menambah kekuatan amalgam
Sn : a. Mengurangi pemuaian selama pengerasan
b.
Memperbaiki amalgamasi dari aloi
Cu : a. menambah kekuatan tepi
b.
meningkatkan kekerasan
c.
meningkatkan pemuaian
Zn : a. Mengurangi oksidasi
b.
mudah bereaksi dengan oksigen
c.
Mencegah kombinasi oksigen dengan logam yang lain
Hg : a. Memberikan reaksi yang baik terhadap
permukaaqn partikel alloy
C. Sifat Bahan Tambalan Amalgam
Bahan tambalan amalgam dibagi atas bebrapa sifat, yaitu:
1.
Sifat Fisik Amalgam
Ada beberapa sifat yang termasuk dalam sifat fisik amalgam (Creep, Stabilitas
Dimensional, Difusi termal, dan Abrasi), diantaranya:
§ Creep adalah sifat
viskoelastik yang menjelaskan perubahan dimensi secara bertahap yang terjadi
ketika material diberi tekanan atau beban. Untuk tumpatan amalgam, tekanan
mengunyah yang berulang dapat menyebabkan creep. Amalgam dengan kandungan
tembaga yang tinggi mempunyai nilai creep yang jauhlebih rendah, beberapa
bahkan kurang dari 0,1%. Tidak ada data yang menunjukkan bahwamengurangi nilai
creep 1% akan dapat mempengaruhi kerusakan tepi.
Kekurangan:
Amalgam yang
memiliki tingkat creep tinggi akan mengalamikerusakan marginal dan
mengakibatkan menurunnya nilai estetik.
Solusi: - Meminimalkan fase gamma 2 saat setting
- Penambahan palladium dan
indium
§ Stabilitas Dimensional. Idealnya
amalgam harus mengeras tanpa terjadi perubahan pada dimensinya dan kemudian
tetap stabil. Meskipun demikian ada beberapa faktor yang mempengaruhi
dimensiawal pada saat pengerasan dan stabilitas dimensional jangka panjang. Perubahan dimensional dari amalgam tergantung
pada seberapa banyak amalgam tertekan pada saat pengerasan dan kapan pengukuran
dimulai
Kekurangan: Dapat
menyebabkan kebocoran mikro dan sekunder karies
Solusi: Menggunakan “cavity
varnish” yang mengandung larutan resin alami atau sintetis dalam pelarut
yang menguap misalkan eter dan harus tahan air.
§ Difusi termal. Difusi
termal amalgam adalah empat puluh kali lebih besar dari dentin
sedangkankoefisien ekspansi termal amalgam 3 kali lebih besar dari dentin yang
mengakibatkan mikroleakage dan sekunder karies.
Solusi: Mengisolasi dan menyekat dasar
cavitas dengan semen amalgam.
§ Abrasi. Proses abrasi yang
terjadi saat mastikasi makanan, berefek pada hilangnya sebuahsubstansi / zat,
biasa disebut wear. . Mastikasi
melibatkan pemberian tekanan pada tumpatan,yang mengakibatkan kerusakan dan
terbentuknya pecahan/puing amalgam. (Marke,
1992)
2. Sifat Mekanik Amalgam
Dental amalgam mempunyai berbagai
macam struktur, dan kekuatan struktur tersebut tergantung dari sifat individu dan
hubungannya antara satu struktur dengan struktur yanglainnya. Dental amalgam
adalah material yang brittle/rapuh. Kekuatan tensile amalgamlebih rendah
dibanding kekuatan kompresif. Kekuatan kompresif ini cukup baik
untuk mempertahankan kekuatan amalgam, tetapi rendahnya kekuatan tensile
yang memperbesar kemungkinan terjadinya fraktur/retakan. Kekuatan tarik
dari amalgam dengan kandungan tembaga yang tinggi tidak jauh berbeda dengan
amalgam yang memiliki kandungan tembaga yang rendah.
Kelebihan:
Ketahanan terhadap kehausan sangat
tinggi, tidak seperti bahan lain yang pada umumnya lama kelamaan akan mengalami
haus karena faktor-faktor dalam mulut yang saling berinteraksi seperti gaya
kunyah dan cairan mulut.
3. Sifat Kimia Amalgam
Korosi galvanic atau bimetalik
terjadi ketika dua atau lebih logam berbeda atau alloy berkontak dalam larutan elektrolit , dalam hal ini adalah air ludah. Hubungan lama restorasi dengan besar
arus galvanic berbanding terbalik artinya semakin
lama usia restorasi amalgam dengan tumpatan lainnya , semakin kecil arus
galvanic yang dihasilkan.
Kekurangan: Mengakibatkan rasa nyeri
bila menimbulkan arus galvanis bersama dengan tumpatan
logam lain
Solusi: Melepas
tumpatan logam lain sebelum memakai tumpatan amalgam
4. Sifat Biologi Amalgam
Ada beberapa
sifat yang termasuk dalam sifat biologi amalgam (Alergi dan Toksisitas)
Secara khas
respon alergi mewakili antigen dengan reaksi antibodi yang ditandaidengan rasa
gatal, bersin, kesulitn bernafas, pembengkakan, dan gejala lain.
Solusi :
Tidak menggunakan tumpatan amalgam
(tumpatan jenis lain yang dipakai)
Sejak awal penggunaannya kemungkinan efek samping dari air raksa sudah
mulaidipertanyakan.Kadang-kadang masih ada dugaan bahwa keracunan
air raksa dari tambalangigi adalah penyebab dari penyakit-penyakit
tertentu yang diagnosisnya tidak jelas dan adabahaya bagi dokter gigi atau
asistennya.Ketika uap air raksa terhirup selama pengadukanpenempatan dan pembuangan.Tidak diragukan
bahwa air raksa merembes ke dalam struktur gigi.
Suatu analisispada
dentin dibawah tambalan amalgam mengungkapkan adanya air raksa yang turutberperan dalam perubahan warna gigi.Sejumlah
air raksa dilepaskan pada saat pengunyahantetepi kemungkinan keracunandari air
raksa yang menembus gigi atau sensititasi terhadap garam-garam air raksa yang
larutdari permukaan amalgam sangat jarang terjadi .
Kemungkinan yang paling menonjol bagi asimilasi air raksa dari amalgam gigi adalah
melalui tahap uapnya.selain itu amalgam juga memiliki sifat sebagai berikut:
-
Flow
Perubahan permanen dari beda yang di sebabkan oleh beban yang konstan yang
sifatnya compresive.apabila Hg meningkat maka flow meningkat.
-
Ekspansi
dan kontraksi
Perubahan di mensi waktu amalgam mengeras,apabila ekspansi
meningkattumpatan menonjol keluar kavitas maka traumatic oklusi,namun apabila
kontraksi meningkat maka terjadi ruang antara tumpatan dengan dinding kavita
maka tumpatan lepas/sekunder karies. Semakin lama triturasi maka makin kecil
ekspansi dan makin besar kontraksi,selain itu tekanan besar waktu kondensasi
maka semakin kecil expansi,apabila Hg banyank maka expansi
meningkat,kontaminasi kotoran selama tumpatan maka ekspansi meningkat.
-
Secondary
expansion
Efek kontak cairan dengan amalgam sebelum atau sedang di lakukan kondensasi.
Contoh: cairan,kekeringan tangan operator,air ludah,penempatan dental alloy di
tempat yang gelap.dapat mengakibatkan post operative pain(rasa nyeri setelah
penambalan). Cara menghindari secundary expiation:
·
Manipulasi
yang tepat:Hg tidak berlebihan
·
Memakai
rubber dam/cotton roll
·
Jangan
memegang amalgam dengan tangan
·
Kavita
harus benar-benar kering
-
Spheroiding
Kecenderungan dari massa amalgam untuk menjadi bulat karena adanya Hg (Hg
tidak boleh berlebihan) strength amalgam/kekuatan suatu amalgam
30 menit : 6%final strength
8 jam: 80-90%final strength
Tarnish adalah lapisan film yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna,
mudah terjadi pada amalgam yang tidak di poles(kasar), corrosion adalah terjadi
di permukaan dan dalam dari tumpatan yang disebabkan karena chemis (Terjadi
pada penderita yang makan makanan dimana kadar sulfur dan chlorida tinggi atau electro chemical action (Terjadi pada tumpatan yang tidak sejenis (emas dan
amalgam)
Kelebihan Hg di keluarkan waktu memeras dan kondensasi, Hg harus cukup
membuat massa yang plastis (waktu mencampur Hg harus membasahi seluruh
partikel).
D. Kelebihan Dan Kekurangan
Bahan Tambalan Amalgam
1.
Dapat
dikatakan sejauh ini amalgam adalah bahan tambal yang paling kuat dibandingkan
dengan bahan tambal lain dalam melawan tekanan kunyah, sehingga amalgam dapat
bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama di dalam mulut (pada beberapa
penelitian dilaporkan amalgam bertahan hingga lebih dari 15 tahun dengan
kondisi yang baik) asalkan tahap-tahap penambalan sesuai dengan prosedur.
2.
Ketahanan
terhadap keausan sangat tinggi, tidak seperti bahan lain yang pada umumnya lama
kelamaan akan mengalami aus karena faktor-faktor dalam mulut yang saling
berinteraksi seperti gaya kunyah dan cairan mulut.
3.
Penambalan
dengan amalgam relatif lebih simpel dan mudah dan tidak terlalu “technique
sensitive” bila dibandingkan dengan resin komposit, di mana sedikit kesalahan
dalam salah satu tahapannya akan sangat mempengaruhi ketahanan dan kekuatan
bahan tambal resin komposit.
4.
Biayanya
relatif lebih rendah
5.
ketahanan
terhadap keausan sangat tinggi, tidak seperti bahan lain yang pada umumnya
lama kelamaan akan mengalami aus karena faktor-faktor dalam mulut yang saling
berinteraksi seperti gaya kunyah dan cairan mulut.
1.
Secara
estetis kurang baik karena warnanya yang kontras dengan warna gigi, sehingga
tidak dapat diindikasikan untuk gigi depan atau di mana pertimbangan estetis
sangat diutamakan.
2.
Dalam
jangka waktu lama ada beberapa kasus di mana tepi-tepi tambalan yang berbatasan
langsung dengan gigi dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi sehingga
tampak membayang kehitaman
3.
Pada
beberapa kasus ada sejumlah pasien yang ternyata alergi dengan logam yang
terkandung dalam bahan tambal amalgam. Selain itu, beberapa waktu setelah
penambalan pasien terkadang sering mengeluhkan adanya rasa sensitif terhadap
rangsang panas atau dingin. Namun umumnya keluhan tersebut tidak
berlangsung lama dan berangsur hilang setelah pasien dapat beradaptasi.
4.
Hingga kini
issue tentang toksisitas amalgam yang dikaitkan dengan merkuri yang
dikandungnya masih hangat dibicarakan. Pada negara-negara tertentu ada yang
sudah memberlakukan larangan bagi penggunaan amalgam sebagai bahan tambal.
5.
Mengakibatkan
rasa nyeri bila menimbulkanarus galvanis bersama dengan tumpatan logam.
Indikasi: Gigi molar (geraham) yang menerima beban kunyah paling besar,
dapat digunakan baik pada gigi tetap maupun pada anak-anak
E. Pemakaian dan Penata Laksanaan
Amalgam
Beberapa
kegunaan bahan restorasi dental amalgam adalah sebagai berikut:
Bahan tambal amalgam, yang mengandung Hg,
sampai kini masih banyak dipakai. Selain karena mudah penggunaannya, harganya
pun relatif tidak mahal. Namun, karena kandungan merkurinya, tambalan ini
merupakan bahan yang kontroversial. Sejauh ini, tidak ada larangan penggunaan
bahan tambal ini oleh institusi yang kuat kaitannya dengan praktik kedokteran
gigiseperti FDI (Federation Dentaire
International) atau ADA (American Dental Association). Demi keselamatan pasien
dan personil kesehatan gigi, bagaimanapun, telah dikeluarkan tuntunan bagi para
dokter gigi dan asistennya dalam menatalaksanai tambalan amalgam ini. Tuntunan
tersebut meliputi:
1.
Kenalilah
gejala bahaya dan gejala dari keterpaparan terhadap Hg misalnya terjadinya
sensitivitas dan neuropati.
2.
Kenalilah
sumber penguapan merkuri di tempat kerja misalnya cipratan Hg, penyimpanan sisa
amalgam dan kapsul amalgam bekas pakai yang tidak tertutup rapat, kebocoran
pada kapsul amalgam atau dispenser, proses triturasi, penambalan, pemolesan,
dan pembongkaran tambalan amalgam, atau pemanasan instrumen yang telah terkontaminasi
oleh amalgam.
3.
Pedulilah
terhadap penanganan limbah amalgam dan masalah yang berkaitan dengan
lingkungan.
4.
Buatlah
tempat kerja yang berventilasi baik dan desain yang memudahkan pembersihan.
Pertukaran udara segar harus maksimal. Jika ruangan memakai alat penyejuk
udara, gantilah filter AC tersebut secara berkala.
5.
Pantaulah
keterpaparan karyawan dan ruangan kerja terhadap Hg. Konsentrasi Hg pada urin
hendaknya tidak melebihi 6,1 mikrogram per liter. Periksalah secara periodik
kadar Hg di ruangan. Menurut ketentuan OSHA (Occupational Safety and Health
Agency – dari Departemen Perburuhan Amerika Serikat) kadar uap Hg maksimal
adalah 50 mikrogram per meter kubik dalam masa kerja 8 jam per had untuk lebih
dari 40 jam per minggu.
6.
Gunakanlah
amalgam dalam kapsul dan gunakan amalgamator dengan tutup yang balk.
Amalgamator hendaknya memenuhi syarat spesifikasi ISO 7488. Jika memakai
amal-gam yang tidak dikapsulkan, minimalkanlah penyimpanan merkuri di dalam
tempat kerja.
7.
Simpanlah
merkuri dalam tempat yang tidak mudah pecah, tertutup rapat, pada tempat dengan
ventilasi baik, serta jauh dari sumber panas.
8.
Hati-hatilah
dalam menangani tambalan amalgam. Hindari kontak kulit dengan merkuri atau
amalgam yang bare tercampur. Pakailah baju praktik hanya di tempat praktik
saja.
9.
Gunakan
alai penyedot (oral evacuation equipment) yang cukup kuat dan pakailah masker
ketika membongkar dan memoles amalgam. Sistem penyedotan ini harus dilengkapi
filter atau kotak penadah yang harus secara teratur dibersihkan atau diganti.
10.
Buanglah
alai atau bahan yang terkontaminasi Hg dalam kantong tertutup. Simpan kelebihan
amalgam dalam kotak penyimpan tertutup yang berisi larutan fiksasi radiograf.
Amalgam dapat didaur ulang; kirimkan amalgam sisa ini untuk didaur ulang ke
perusahaan yang dapat dipercaya.
11.
Janganlah
sekal-kali membuang limbah yang terkontaminasi merkuri ke dalam tempat sampah
yang akan dibakar (insinerasi). Insinerasi kapsul bekas hendaknya dihindari
untuk mencegah penguapan Hg ke atmosfir. Deposisi Hg atmosfir ke tanah, danau
atau sungai berisiko terjadinya bioakumulasi Hg dalam ikan atau mahluk air
lainnya.
12.
Bersihkan
dengan cermat instrumen yang telah terkontaminasi amalgam atau merkuri sebelum
sterilisasi atau desinfeksi panas.
13.
Gunakan
pemampat amalgam yang kepalanya halus, tidak lagi yang bergerigi agar mudah
dibersihkan dari sisa merkuri sebelum disterilkan.
